Showing posts with label Politik Daerah. Show all posts
Showing posts with label Politik Daerah. Show all posts

Memilih dengan Hati

Musim Pilkada tiba. Ratusan pasang tokoh/politisi mengikuti Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) langsung di 246 daerah di Indonesia yang digelar tahun 2010. Mereka memperebutkan jabatan Gubernur, Walikota, atau Bupati.

Tidak masalah jumlah calon kepala daerah melimpah, Selain lumrah di negara demokrasi, hal ini menjadi bukti di daerah tidak kekurangan calon pemimpin. Rakyat pun memiliki banyak pilihan, sehingga bisa leluasa menentukan pemimpin yang disukai.


Masalahnya, kuantitas sering tidak berujung pada kualitas. Melimpahnya calon kepala daerah belum menjamin terpilihnya Gubernur, Walikota dan Bupati yang mampu memajukan daerah, menyejahterakan dan menegakkan keadilan bagi seluruh rakyat.


Terbukti hingga kini masih banyak kepala daerah yang menyakiti hati rakyat. Mereka sibuk memperkaya diri dengan dengan cara korupsi, kolusi dan nepotisme. Untungnya beberapa diantaranya kini meringkuk dibalik jeruji penjara.


Transaksional


Ironisnya, realitas buram tersebut kemungkinan besar masih mewarnai hasil akhir Pilkada tahun ini. Faktor pemicunya adalah pelaksanaan demokrasi mengalami distorsi. Pilkada langsung yang seharusnya menjadi wadah ideal partisipasi rakyat untuk menentukan pemimpin daerah yang berkualitas, justru menyimpang menjadi arena transaksi material belaka.


Gejalanya cukup jelas. Tokoh-tokoh yang maju dalam Pilkada tahun ini masih didominasi oleh figur berkarakter transaksional. Mereka adalah calon-calon kepala daerah yang kepemimpinannya berbasis transaksi ekonomis demi kepentingan beberapa pihak sesuai dengan kontrak yang disepakati.


Mereka kini sibuk bertransaksi dan menggalang dana untuk memenangkan Pilkada. Sebagian dilakukan dengan cara retail, misalnya dengan memungut puluhan juta rupiah dari setiap orang yang ingin lolos seleksi CPNS (calon pegawai negeri sipil). Cara lainnya adalah dengan menerima “sumbangan” dana puluhan miliar rupiah dari para investor yang bernafsu mengeruk kekayaan daerah.


Dari usaha ini, santer terdengar ada calon kepala daerah (Bupati) yang berhasil mengantongi puluhan miliar rupiah. Bahkan, seorang Bupati yang berambisi mempertahankan jabatannya, telah mendapatkan lebih dari Rp100miliar. Dana sebesar ini, digunakan untuk kampanye, pencitraan, dan tentu saja untuk belanja suara rakyat.


Mayoritas calon kepala daerah masih menyakini, money politic (politik uang) menjadi senjata ampuh untuk memenangkan kompetisi. Tekanan ekonomi dan prinsip pragmatis sebagian besar rakyat menjadi alasan terkuat. Demi memenuhi kebutuhan biologis (perut) rakyat rela menjual murah suaranya. Transaksi politis terjadi saat rakyat menerima uang recehan dari calon kepala daerah.


Akhirnya apa yang terjadi? Berlanjutlah
kekuasan yang bercorak oligarkis dan alikasi, sehingga distribusi sumber-sumber kekayaan daerah terus dikuasai dan dinikmati oleh segelintir elite orang berduit. Mereka tidak lagi terbebani akuntabilitas, meski rakyat menderita berkepanjangan.

Kalahkan


Saya berharap kekuasaan keji tersebut tidak berlanjut. Semoga kalkulasi calon kepala daerah transaksional salah, sehingga kalah dalam Pilkada. Namun harapan ini hanya bisa menjadi kenyataan, jika mayoritas rakyat mendukung dengan menyadari kesalahan yang dibuat lima tahun silam. Rakyat mengubah sikap, lalu kembali berdemokrasi dengan benar. Berani menanggalkan logika kapital dengan menolak segala bentuk praktek politik uang.


Saatnya menghidupkan spirit suara rakyat adalah suara Tuhan. Suara rakyat yang hanya layak dipersembahkan untuk pemimpin transformatif. Yakni calon kepala daerah yang mengedepankan moralitas, mendorong nilai-nilai kemerdekaan, keadilan, dan kemanusiaan, serta memahami aspirasi dan kebutuhan rakyat.


Tidak mudah memang menemukan calon kepala daerah transformatif. Selain banyak godaan, jumlahnya sedikit. Mungkin seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Namun tidak boleh menyerah. Meski ditertawakan, saya yakin rakyat masih memiliki hati nurani. Layaknya magnet, hati nurani mampu menemukan pemimpin ideal yang tersembunyi.


Hati nurani adalah peneguh pikiran dan sikap agar rakyat selalu bertindak demi kebenaran obyektif, salah satunya memilih pemimpin transformatif. Oleh karena itu, hati nurani selalu membimbing rakyat agar memilih calon kepala daerah yang memiliki rekam jejak integritas kuat, tidak cacat moral dan hukum.


Calon kepala daerah tersebut juga memiliki kapabilitas yang mempuni dan teruji. Kemampuannya bisa dilihat sejak memaparkan program-program dan cara pelaksanannya yang realistis. Ia jauh dari permainan retorika dan obral janji yang memabukkan rakyat.


Tidak kalah pentingnya, calon kepala daerah tersebut harus memegang teguh akuntabilitas, siap bertanggungjawab terhadap segala resiko dari jalannya pemerintahan yang dipimpinnya. Ia tidak banyak berdalih dan berkeluh kesah saat rakyat berdemontrasi menagih janji. Kritikan justru dijadikan sebagai cambuk untuk meluruskan niat dan memperbaiki diri agar jalannya pembangunan benar-benar untuk kepentingan seluruh rakyat.


Akhirnya, semoga kali ini rakyat mengikuti hati nurani!

*Awi Wiyono, Pegiat Citizen Journalism


Tulisan Anda
bisa dimuat & mejeng
di koran, majalah, tabloid,
dan media massa terkenal!

Caranya klik banner di bawah ini:

Pilihan Tepat Penulis Hebat


Ikuti strategi jitunya,
tulisan Anda
pasti cepat dimuat
di media massa ternama!
Ratusan ribu...
bahkan jutaan rupiah
masuk ke rekening bank Anda.


Mal di Arus Politik Rembang




Pembangunan mal atau pusat perbelanjaan tidak selalu berkutat di ranah ekonomi. Ada kalanya pendirian mal diseret ke arena politik. Stigma kapitalisme mal sering dijadikan senjata untuk melunturkan citra populis lawan politik. Kepala Daerah yang rajin membangun mal diasosiasikan sebagai Gubernur/Bupati yang tidak berpihak pada rakyat kecil, sehingga tidak layak untuk dipilih lagi.

Skema politisasi pembangunan mal itu kini memanaskan suhu politik Kabupaten Rembang menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang digelar 26 April 2010. Beberapa tokoh yang berniat maju sebagai calon bupati sengaja memanfaatkan rencana pembangunan mal di area parkir Taman Rekreasi Pantai Kartini (TRPK) ini untuk memudarkan popularitas Bupati Rembang Moch. Salim (Salim) yang ikut berkompetisi lagi memperebutkan jabatan bupati untuk periode tahun 2010-2015.

Selain Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDI-P) dan Fraksi Bintang Keadilan (FBK), ada dua tokoh yang bersuara lantang di media massa, menolak rencana pembangunan mal ini. Mereka adalah Wakil Bupati Rembang Yaqut Cholil Qoumas dan bakal calon bupati dari jalur independen Yahya Amin.

Inti penolakan mereka adalah secara sosial, kultural, dan ekonomi masyarakat Rembang dinilai belum siap menerima ekses dari keberadaan mal. Mal yang berkarakter kapitalis akan mematikan kehidupan ekonomi rakyat kecil. Mal juga hanya akan menumbuhkan budaya konsumerisme yang sangat bertentangan dengan program ekonomi kerakyatan.

Pernyataan mereka memang terkesan membela kepentingan rakyat kecil. Namun sesungguhya, pernyataan itu masih berupa retorika yang lumrah muncul disaat penyelenggaraan Pilkada. Menggemakan statement pro rakyat kecil hanyalah cara klasik untuk mencari simpati rakyat.

Sah-sah saja bakal calon bupati membangun opini publik memperpopulis citra diri. Namun mereka tidak boleh gegabah dalam menggulirkan issue untuk menyerang lawan politik. Sebab jika salah momentum, issue itu justru menjadi blunder yang merugikan citra mereka sendiri.

Lalu pertanyaannya, apakah penolakan rencana pembangunan mal ini efektif untuk memoncerkan citra populis bakal calon bupati itu dan sekaligus meredupkan citra populis calon bupati incumbent Moch. Salim?

Sulit

Mencermati realita politik terkini Rembang, politisasi rencana pembangunan mal tersebut sulit menembus kelemahan Salim. Isu penolakan mal tidak cukup kuat untuk membentuk opini publik yang mampu memudarkan citra populis calon bupati yang diusung oleh Partai Demokrat ini.

Mengapa? Program empat pilar yang digulirkan Salim mampu memenuhi harapan rakyat miskin Rembang. Selama lima tahun program ini dijalankan, mayoritas rakyat miskin Rembang merasa terbantu oleh kebijakan populis semacam sekolah dan berobat gratis.

Rakyat juga menilai positif gencarnya pembangunan infrastruktur, seperti perbaikan jalan hingga ke pedesaan, pembangunan embong untuk irigasi pertanian, dan perluasan pelabuhan untuk mempelancar pendaratan ikan nelayan. Rakyat pun tidak mungkin menutup mata adanya program pemberdayaan ekonomi rakyat, semacam PNPM Mandiri.

Keberhasilan program empat pilar membuat citra populis Salim sulit terhapus dari memori mayoritas rakyat Rembang. Artinya, figur kepemimpinan Salim masih dipercaya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah penghasil garam ini.

Jadi seandainya pendirian mal direalisasikan, citra populis Salim tetap terjaga. Dengan kata lain, penolakan pendirian mal tidak efektif untuk melawan arus politik calon bupati yang berlatar belakang pengusaha ini.

Alur logikanya begini, adanya kepercayaan dari rakyat pasti meningkatkan daya pengaruh Salim. Kekuatan pengaruh akan mengefektifkan upaya Salim menyampaikan pesan untuk memenuhi harapan pemilih yang mayoritas berkarakter pragmatis.

Pesan yang pasti disuntikkan Salim ke memori pemilih pragmatis adalah pembangunan mal dijadikan bagian dari program peningkatan ekonomi rakyat, terutama untuk memperluas lapangan pekerjaan dan pengembangan pemasaran produk-produk asli Rembang, seperti batik, sirup kawis, dan ikan laut olahan.

Pesan yang sarat harapan ini tentu mampu mengikis stigma kapitalisme mal. Citra mal berubah menjadi pusat perbelanjaan yang berpihak pada kepentingan rakyat. Akhirnya, kehadiran mal bisa diterima karena menjadi bagian dari solusi untuk memajukan perekonomian rakyat.

Nah, jika opini publik sudah terbentuk seperti itu, Salim akan memilih wakil yang bertipe pemimpin Solidarity Maker (penggalang dukungan), maka ia pun siap mendulang mayoritas suara rakyat!

Meski demikian, Salim bukannya tidak memiliki kelemahan. Masih ada celah yang bisa digunakan bakal calon bupati lain untuk mengalahkannya. Salah satu cara yang momentumnya paling tepat adalah menggulirkan issue kasus korupsi.

Hanya masalahnya, adakah bakal calon bupati lain yang memiliki bukti valid dan berani mengungkapkan ke publik, bahwa calon bupati incumbent melakukan tindak pidana korupsi? Kita tunggu saja. (Awi Wiyono/Citizen Journalist)